Manfaat Kesehatan dari Kedelai


Makanan tradisional berbahan dasar kedelai sudah banyak dikonsumsi oleh masyarakat di negara-negara Asia Tenggara semenjak berabad-abad yang lalu. Tetapi belakangan ini, kesadaran pribadi akan kesehatan telah meningkat dan mendorong masyarakat di negara-negara Barat untuk mulai mengkonsumsi kedelai. Sehingga dewasa ini, makanan berbahan dasar kedelai mulai populer pada penduduk non-Asia.
Terdapat fakta menarik sehubungan manfaat makanan berbahan dasar kedelai dalam menjaga kesehatan dan penampilan seseorang. Selain itu, komponen yang terkandung di dalam kedelai telah terbukti mampu mencegah kanker payudara, osteoporosis, penyakit jantung, dan gejala menopouse.
Mencegah Kanker Payudara
Hasil penelitian Dupont Protein Technologies bekerjasama dengan the American Soybean Association (2002) menunjukkan bahwa laju kematian per 100 ribu penduduk akibat penyakit kanker payudara pada wanita adalah: 21,1 di Amerika Serikat; 26,5 di Inggris; dan 6,8 di Jepang. Data tersebut menunjukkan bahwa Jepang memiliki angka kematian akibat kanker payudara yang terendah.
Tahukah Anda bahwa ada hubungan antara jumlah konsumsi kedelai dengan risiko terjadinya kanker. Faktanya adalah rendahnya mortalitas (angka kematian) akibat penyakit kanker di negara-negara Asia diakibatkan oleh tingginya konsumsi kedelai. Di Jepang yang penduduknya gemar mengkonsumsi kedelai, mortalitas akibat penyakit kanker payudara hanya mencapai ¼ dari yang terjadi di Amerika Serikat. Ternyata, diketahui bahwa konsumsi kedelai di Amerika Serikat sangatlah rendah.
Bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa kedelai bermanfaat bagi pencegahan penyakit kanker, semakin banyak tersedia dalam berbagai publikasi internasional. Kacang kedelai yang kaya akan protein diyakini memiliki potensi yang sangat besar dalam melawan pertumbuhan kanker payudara, terutama jika dikonsumsi sejak masa pubertas.
Evaluasi yang dilakukan terhadap 18 studi oleh para peneliti dari John Hopkins School of Medicine menunjukkan bahwa di antara wanita-wanita sehat, konsumsi kedelai terbukti dapat menurunkan risiko kanker payudara sebesar 14%. Konsumsi kedelai selama hidup, khususnya selama masa pubertas, ternyata dapat memberikan efek perlindungan terhadap kanker payudara.
Hasil meta-analisis baru-baru ini menemukan bahwa di antara studi epidemiologi di Asia, maka konsumsi kedelailah yang paling berhubungan dengan menurunnya risiko kanker payudara. Konsumsi kedelai yang tinggi dapat menurunkan risiko kanker payudara hingga 29%. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa periode konsumsi kedelai yang paling tepat untuk mencegah kanker payudara adalah pada masa anak-anak atau dewasa muda, bukan pada masa dewasa madya atau tua.
Mencegah Kanker Prostat
Hasil penelitian Dupont Protein Technologies bekerjasama dengan the American Soybean Association (2002) menunjukkan bahwa laju kematian per 100 ribu penduduk akibat penyakit kanker prostat pada pria adalah 17.3 di Amerika Serikat, 17.1 di Inggris, dan 4.2 di Jepang.
Konsumsi kedelai merupakan faktor yang sangat besar kontribusinya dalam menurunkan risiko kematian akibat kanker prostat pada penduduk Jepang. Penelitian secara in vitromenunjukkan bahwa isoflavon genistein telah terbukti dapat menghambat pertumbuhanandrogen-dependent cell dan androgen-independent cell, yaitu faktor penyebab timbulnya kanker prostat. Isoflavon kedelai dapat digunakan dalam terapi hormon untuk mencegah terjadinya kanker prostat.
Mencegah Osteoporosis
Osteoporosis adalah kondisi penurunan massa tulang, yang menyebabkan tulang mudah rapuh dan patah. Walaupun prevalensi osteoporosis pada pria lebih rendah daripada wanita, diperkirakan hampir sepertiga dari kejadian patah tulang pinggul terjadi pada pria. Tingkat patah tulang pinggul relatif rendah pada penduduk di negara-negara Asia yang terbiasa mengkonsumsi makanan berbahan kedelai.
Konsumsi protein yang tinggi akan meningkatkan ekskresi (pembuangan) kalsium keluar dari tubuh, sehingga meningkatkan peluang terjadinya retak pada tulang. Konsumsi protein hewani yang tinggi akan menyebabkan kehilangan kalsium yang lebih besar dibandingkan konsumsi protein nabati.
Dengan melihat Tabel 1 dapat Anda ketahui bahwa konsumsi kalsium per hari yang tinggi di negara-negara Barat (Amerika Serikat, Inggris, dan Norwegia) ternyata tidak mampu mengurangi tingginya laju retak tulang paha. Sebaliknya, konsumsi kalsium per hari yang rendah di negara-negara Timur (Singapura dan Hongkong), justru sangat efektif dalam menurunkan laju retak tulang paha. Mengapa hal ini bisa terjadi? Bukankah selama ini berkembang paham bahwa konsumsi kalsium yang tinggi mampu mencegah osteoporosis?
Tabel 1. Konsumsi kalsium, konsumsi protein hewani, dan laju retak tulang paha pada berbagai negara
Negara
Laju retak
tulang paha
Konsumsi kalsium
(mg/hari)
Konsumsi protein hewani (g/hari)
Negara Barat:
1.    Amerika Serikat
2.    Inggris
3.    Norwegia
144,9
118,2
190,4
973
977
1087
72,0
56,6
66,6
Negara Timur:
1.    Singapura
2.    Hongkong
21,6
45,6
389
356
24,7
34,6
Sumber: Dupont Protein Technologies bekerjasama dengan the American Soybean Association (2002)
Anda dapat mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut dengan melihat jumlah konsumsi protein hewani per harinya. Di negara-negara Barat, konsumsi protein hewani per harinya sangat tinggi, mengakibatkan ekskresi kalsium berlangsung pesat, sehingga tulang kekurangan kalsium dan mudah retak. Sebaliknya, konsumsi protein hewani yang rendah dan konsumsi protein nabati yang tinggi di negara-negara Timur, justru sangat bermanfaat untuk mencegah ekskresi kalsium, sehingga cukup untuk pembentukan massa tulang dan mampu mencegah keretakan tulang.
Suatu penelitian yang dilakukan di Jepang terhadap 478 wanita postmenopause menunjukkan adanya peningkatan densitas mineral tulang akibat konsumsi isoflavon yang dilakukan setiap hari. Maka itu meningkatkan konsumsi kedelai sangat penting karena isoflavon banyak terkandung dalam kedelai.

Mencegah Penyakit Jantung
Konsumsi secara teratur bahan pangan yang mengandung kedelai dapat menurunkan kadar total kolesterol dan LDL kolesterol di dalam darah. United States of Food and Drug Administration (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat) menyetujui klaim kesehatan pada label kemasan pangan yang berbunyi “konsumsi diet rendah lemak yang mengandung 25 g protein kedelai setiap hari dapat mengurangi risiko penyakit jantung”.
Mungkin Anda ingin tahu bagaimana hal ini bisa terjadi? Mekanismenya adalah sebagai berikut: (1) metabolisme hepatik yang dapat meningkatkan pembuangan LDL and VLDL kolesterol (kolesterol jahat), serta trigliserida oleh sel-sel hati sehingga kadarnya menurun di dalam darah, (2) kedelai juga meningkatkan kadar HDL (kolesterol baik), serta (3) menurunkan tekanan darah dan menjaga kesehatan pembuluh darah.
Hasil meta-analysis dari 38 studi yang dilakukan oleh Dupont Protein Technologies bekerjasama dengan The American Soybean Association (2002) menyimpulkan bahwa dibandingkan dengan kelompok kontrol (tanpa konsumsi kedelai) maka mereka yang rutin mengkonsumsi protein kedelai akan mengalami: (1) penurunan total kolesterol sebesar 23.2 mg/dl (9.3%), (2) penurunan LDL-kolesterol sebesar 21.7 mg/dl (12.9%), (3) penurunan trigliserida sebesar 13.3 mg/dl (10.5%), dan (4) peningkatan HDL-kolesterol sebesar 1.2 mg/dl (2.4%).
Mencegah Gejala Menopause
Beberapa gejala yang akan dirasakan oleh Anda saat nanti mengalami menopause adalahhot flashes (ruam-ruam panas di wajah), berkeringat di malam hari, susah tidur, depresi, dan vagina mulai mengering. Suatu penelitian menunjukkan bahwa pengurangan 45% hot flashes pada wanita postmenopause dapat dilakukan dengan pemberian tepung kedelai. Dosis yang dianjurkan adalah 45 g tepung kedelai per hari.
Jika Anda melihat pada Tabel 2, diketahui bahwa presentase wanita Jepang yang mengalami gejala-gejala menopause (seperti: hot flashes, berkeringat malam, susah tidur dan depresi), jauh lebih sedikit dibandingkan wanita Amerika Serikat. Hal tersebut disebabkan oleh tingginya konsumsi kedelai pada wanita Jepang.
Tabel 2. Prosentase wanita Amerika dan Jepang usia 45-55 tahun yang mengalami gejala-gejala menopause
Negara
Hot flashes dan berkeringat malam (%)
Susah tidur (%)
Depresi (%)
Amerika Serikat
38,0
30,6
35,9
Jepang
14,7
11,7
10,3
Sumber: Dupont Protein Technologies bekerjasama denagan the American Soybean Association (2002)

Satu Tanggapan

  1. […] foto : dari sini Posted in: Kemenko Ekonomi   « Koperasi Harus Dilibatkan Kerja Bakti Kary.Pt.kertas […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: