Hakimi, Guruku dan Sahabatku


Saat masih kelas 6 di SDN Suka Seuri, Cikampek, Karawang, Jawa Barat, aku mengenal sosok luar biasa yang tak dapat dilupakan hingga kini. Sosok tersebut, bernama Hakimi, guru baru kami yang menggantikan guru lama yang kebetulan pindah tugas ke SD kampung sebelah. Aku menilai, saat itu, Hakimi adalah seorang guru yang sok eksentrik belaka dengan tas karung goni, kumis panjang tak terawat dan berbaret. Lagaknya lebih mirip seniman ketimbang guru SD.

Namun seiring waktu, Hakmi ternyata jauh lebih baik dari guru-guru kami lainnya. Bukan hanya cara mengajarnya yang membuat aku terinsiprasi berbagai ilmu dasar namun juga perilaku dan cara berpakaiannya sangat luar biasa. Beliau guru yang sebenar-benarnya bagiku. Sungguh, hingga kinipun banyak sekali ajaran dan didikannya yang kujadikan pedoman hidup. Sekalipun aku sudah bergelar doktor, tapi rasanya ilmuku belum seberapa dibanding “ilmu hidup” guru SD yang bersahaja tersebut.

Hakimi mengajariku bagaimana kita harus selalu percaya diri, tanpa perlu menunjukkan kelebihan kita secara berlebihan. “Kamu harus yakin bahwa kamu bisa mencapai cita-citamu, sebagaimana orang lain melakukannya”, ucapnya suatu kali. Lanjutnya, “kamu bisa jadi dokter, insinyur, dosen, menteri bahkan presiden atau pengemis sekalipun, tergantung pilihan dan seberapa kuat keinginanmu menggapainya. “Kalian akan menjadi kerdil jika kalian berpikir kerdilbegitu pula sebaliknya” begitu ujarnya. Pesan tersebut rasanya masih terngiang hingga kini ditelingaku.

Masalah moral dan etika juga menjadi wejangan harian yang kami dapatkan, namun semua dilakukan dengan cara yang sangat luar biasa. Salah satunya, kami tidak perlu melakukan “cium tangan” jika masuk atau kelas selesai. Agar tercipta kesetaraan dan mengurangi hambatan psikologis antara guru dan murid begitu kira-kira ujarnya. “Bapak ingin jadi teman kalian juga, walau di kelas guru kalian“. Ucapannya bukan sekadar basa-basi, beliau benar-benar menjadi teman kami di luar kelas. Beliau mengajak kami memancing di sungai, mencari kayu bakar, hingga berkemah di tepi hutan kecil tak jauh dari kampung kami. Banyak pepatah dan ajaran kehidupan yang kami dapatkan dari “Sang Guru” ini. Bagiku, ini extrakurikuler paling menakjubkan dalam menuntut ilmu.

Suatu saat ada acara  Jambore tingkat Kecamatan sekitar 1971-1972. Ini momen besar bagi SD kami. Saat itu kami sangat rendah diri melihat “kompetitor” kami yang berseragam lengkap dan peralatan camping yang modern untuk masa itu. Maklum, sebagian dari “7 laskar Hakimi” yang terpilih ikut Jambore kelas kampung itu terpaksa berseragam carut marut dan hanya bersandal jepit tua, bahkan seorang dari kami tak beralas kaki sama sekali. Hakimi memompa mental kami yang jatuh. Hakimi memotivasi  daya juang kami. Hakimi berkata lantang, “kita akan jadi juara umum”. Amiiin kata kami lirih. Lanjutnya: “Kita akan jadi pecundang jika ingin jadi pecundang hina.  Apa yang kalian pilih? Jadi juara pak! kata kami pelan dan ragu.  Apaaaaa? suara manja kalian tak terdengar?? Berteriaklah dengan lantang hai lalanang jagad!. Kalian ingin jadi juara? “Siiiiaaaaaap pak!!, kami berteriak sekuat tenaga.

Semangat kamipun terbakar seketika, seluruh ilmu dan teknik kepramukaan dari Hakimi, dari tali temali, mendirikan tenda, membuat api unggun, memasak dengan peralatan minim, ketangkasan, hingga mencari jejak dimplementasikan dalam setiap lomba. Hasilnya sungguh luar biasa. Sekurang-kurangnya kami selalu masuk 3 besar dalam setiap jenis perlombaan. Setelah 3 hari Jambore, kami pulang dengan ceria, aku sendiri kebagian hadiah sebuah sepeda sebagai salah satu juara cerdas cermat. Hampir setiap hari sepeda itu aku cuci dan dilap dengan minyak kelapa agar mengkilap.

SDN kami yang sebelumnya tak dianggap orang, terus menujukkan berbagai prestasi fenomenal di tingkat kecamatan bahkan tingkat kabupaten selama di bawah asuhanthe extraordinary teacher ini. Selain itu, Hakimi juga menularkan kepiawaian menulis puisi dan cerpen dalam berbagai media cetak kepada kami. Beberapa karya kami, berhasil dimuat majalah Bobo dan Koran daerah kala itu. Guru kami itu juga mengajarkan murid menyanyikan lagu-lagu perjuangan sebelum masuk ruang kelas. “Negara besar diawali oleh nasionalisme“, katanya.

Namun sayang, karirnya sebagai guru kurang cemerlang karena sering berbeda pendapat dengan para birokrat pendidikan.  Selain itu, prinsip hidupnya yang bersih dan anti korupsi membuatnya hanya menempati rumah penunggu sekolah, sebelum akhirnya memiliki rumah sederhana dan motor hasil bisnis kecil-kecilan.  Namun kami sebagai muridnya tetap menaruh rasa hormat yang tinggi kepadanya. Setiap Idul Fitri kami selalu saling berkirim SMS.

Terpujilah engkau guruku, sahabatku, semoga hikmah dan keberkahan tercurah untukmu, Eyang Hakimi. Amiiin.

Perdana Wahyu Santosa

Sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2011/11/25/hakimi-guruku-dan-sahabatku/

3 Tanggapan

  1. Siapa bang Kopo ini ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: