Bisnis Esek-esek di Cilodong Masih Marak


marakPURWAKARTA, RAKA – Meski warung remang-remang di kawasan Cilodong, Kecamatan Bungursari, sempat digusur beberapa waktu lalu, namun tidak serta merta mematikan bisnis esek-esek di tempat tersebut. Buktinya, dengan mata telanjang siapa pun bisa melihat perempuan penjaja seks komersil mengisi lapak ala kadarnya yang hanya diterangi lilin di pinggir jalan raya Cilodong.

“Semakin malam, semakin banyak tamu yang datang ke lapak itu. Biasanya mereka ngobrol-ngobrol dulu, lalu ada yang diajak ke penginapan atau melakukannya di kebun tak jauh dari lapak,” ungkap warga yang mengaku bernama Aep, Sabtu (4/5/2013) kemarin.
Diteruskannya, jika siang, lapak-lapak yang hanya ditopang kayu dan beratapkan terpal itu dibiarkan kosong. Aktivitas mulai ramai menjelang malam hingga dini hari. Untuk menyamarkan bisnis birahi tersebut, biasanya pemilik lapak menjajakan air mineral, minuman soda, hingga berbagai macam makanan ringan serta kopi. Namun, jika dilihat seksama, akan terlihat jelas keberadaan ‘kupu-kupu malam’ yang siap melayani pria ‘hidung belang’, meski hanya diterangi lilin. “Yang datang kesini dari mana-mana, Purwakarta, Karawang, Subang, bahkan ada yang dari Bandung juga,” ujar Bunga -sebut saja begitu- seraya mengaku profesi ini dijalani karena alasan ekonomi.
Berdasarkan data dari Dinkes Purwakarta menyebutkan, tahun 2007, PSK lokalisasi Cikodong yang mengidap HIV/AIDS tercatat 1 orang. Tahun 2009 ditemukan 2 PSK mengidap HIV/AIDS dan 2009 meningkat menjadi 4 PSK.
Selain di Cilodong, bisnis kenikmatan sesaat itu juga menjamur di kost-kostan dan hotel. Bukan itu saja, para pelakunya pun bukan lagi perempuan berusia “senja” tetapi masih muda. Bahkan, ada diantaranya yang berusia belasan tahun. Miris memang, tapi begitulah keadaannya. Sebagian mereka mengaku sering membuka praktek di hotel-hotel dengan sistem panggilan, sebagiannya lagi membuka layanan di kost-kostan. Oleh mereka biasanya dipilih kostan yang tidak terlalu ketat memberlakukan aturan. Lestarinya praktek ini diketahui dari pengakuan sejumlah pelaku bisnis esek-esek di Purwakarta. Sebut saja, Mawar (20) bukan nama sebenarnya. Ia yang mengaku kost di sekitar stasiun KA Purwakarta sering mendapat panggilan untuk melayani lelaki hidung belang. Untuk satu panggilan ditarif bervariasi antara Rp 300 ribu sampai Rp1 juta rupiah. Panggilan biasanya diperoleh dari seorang mamih yang sudah menjadi “pamongngnya” sejak hampir setahun lalu. Kendati demikian, ada beberapa pelanggan lain yang sering langsung memintanya, tanpa melalui jasa perantara mucikari. “Kalau yang udah kenal suka ngehubungin langsung, tidak lewat mamih,” katanya.
Setelah mendapat panggilan, ia akan langsung datang ke tempat yang diminta pelanggan. Rata-rata di hotel. Sedangkan layanan yang ditawarkan adalah short time dan longtime. “Saya ke sana (hotel) diantar tukang ojek. Lalu nanti pulangnya dijemput lagi. Kecuali kalau tamunya siap nganterin,” ungkapnya.
Selama menunggu panggilan, sambung dia, bersama rekan seprofesinya mereka biasa “gathering” atau kumpul di sejumlah kafe di Purwakarta. Termasuk di beberapa tempat hiburan. Selain untuk tujuan mencari pelanggan, juga sekadar menambah jaringan. Tapi ada pula sebagian lagi yang lebih suka menunggu panggilan di kostan. “Rata-rata memang kalau malam sering kumpul di tempat hiburan. Yang nunggu di kostan hanya satu dua orang saja,” ujarnya. (rk)

Sumber: http://www.radar-karawang.com/2013/05/bisnis-esek-esek-di-cilodong-masih-marak.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: